Saturday , December 14 2019
Home / Artikel / “Rasa” PKS, Manis Seperti Ice Cream, Pedas Seperti Rujak | by Otoh Suyatma, Rdn

“Rasa” PKS, Manis Seperti Ice Cream, Pedas Seperti Rujak | by Otoh Suyatma, Rdn

ilustrasi
Oleh : Otoh Suyatma, Rdn
Belakangan banyak pendapat, baik itu bernada santai-santai saja, senang atau bahkan sewot, terhadap banyaknya tulisan-tulisan yang aroma PKS di media sosial. Memang benar, kalau sesekali kita surfing ke facebook, twitter, detik, kompas, atau kompasiana ini, akan dengan mudah kita temui tulisan tentang PKS. Terlepas dari apa isinya, pro atau kontra, tendensius atau hiperbolik, yang terheran-heran, yang menyangkal dan yang membuktikan dan sebagainya.
Saya beberapa waktu yang lalu pernah iseng, masuk ke rubrik politik di kompasiana dan menelusuri halaman-halaman yang sudah lampau. Kemudian saya Ctrl + F dan saya tulis pks. Dari sekitar 20 halaman yang saya telusuri ada fenomena menarik, yaitu, tidak satupun dari halaman-halaman tersebut yang tidak mengandung artikel dengan judul PKS. Minimalnya 2 artikel, ada yang lima dan kalau saya tidak salah ada yang 6 artikel dengan judul mengandung kata PKS.
Saya buka satu per satu, secara umum saya coba kelompokkan setidak-tidaknya ada 3 kubu pembuat tulisan. Yang dua sudah umumlah, PKS lovers dan PKS Haters, tapi ada lagi kubu yang berada di tengah-tengah. Mereka mengkritisi PKS, tapi kalau diteliti lebih dalam, muatan tulisannya bersifat konstruktif terhadap perbaikan PKS. Dan didalam benak saya, saya mereka-reka, oh… si ini masuk ke kubu ini dan si anu masuknya ke kubu anu. Sebab materi tulisan mereka ya, selalu begitu pointnya.
Lebih jauh lagi, saya melihat “ngerumpi” tentang PKS emang seru. Setidaknya kesimpulan ini saya ambil dari bagaimana ekspresi penulis yang terbaca dari setiap tulisannya.  Bagaimana mereka begitu antusiasnya membela atau memojokan PKS. 
Yang sampai-sampai ada yang membela PKS secara hiperbolik dengan menanggalkan nilai-nilai syar’i yang mesti dijunjung tinggi, dipihak yang lainnya mencerca dan dipihak yang lain mendiskreditkan PKS secara membabi-buta dengan data-data seadanya, yang notabene tidak valid dan dan asal comot dari beberapa link yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Tapi inilah kenyataannya, berbicara tentang PKS memang selalu saja menarik. Selalu ada saja hal/issue baru yang akan menjadi hot topic untuk diangkat ke permukaan di sekeliling PKS. Dalam konteks ini, saya tidak peduli apakah para penulis-penulis yang pro kepada PKS adalah kader-kader yang sudah diberi mandat untuk berjuang diranah maya, dan sebaliknya saya juga tidak peduli apakah penulis-penulis yang kontra PKS adalah orang-orang bayaran dari kompetitor yang terusik oleh kiprah dan sepak terjang PKS. Atau mungkin mereka adalah individu-individu tertentu yang memiliki kepentingan terhadap perkembangan atau kemunduran PKS. Sebagaimana saya sekarang menulis, ya karena mendadak saya ingin menulis, itu saja, tanpa tekanan atau permintaan siapapun.
Pertanyaan mendasarnya, “Kenapa berbicara PKS begitu seru? bagaimana dengan hal membicarakan partai lain, apakah akan semenarik PKS?”
Berikut ini hanya analisa pribadi, mungkin benar, mungkin juga tak salah….. hehehe… (mungkin juga bisa salah maksudnya). Apa yang membuat PKS menarik untuk “diperbincangkan”?
  1. Sejak awal PKS mengklaim bahwa ia partai bersih dan peduli. Maksudnya adalah PKS partai yang kader-kadernya bersih dari tindak korupsi, dan peduli terhadap perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik di negeri ini. Hal ini ada benarnya, tidak sepenuhnya salah, dan dapat diiyakan. Menjelang 15 tahun kiprah PKS di jagad politik negeri ini, hanya PKS lah yang relatif bersih (bagi kadernya yang duduk diparlemen).  Kalaupun ada kadernya yang “nyeleneh” itupun hanya dalam jumlah yang kecil, dan langsung di eliminir dengan sistem dan mekanisme partai. Bahkan saya melihat beberapa kadernya yang dicokok, tidak dapat di buktikan tentang “kemenyelenehannya” di ranah hukum kita. Lagi-lagi sebagian orang beropini, jangan-jangan ini hanya kepentingan elit politik di atas yang khawatir terhadap soliditas dan prestasi PKS di negeri ini. Ya tentu saja karena “bersihnya” partai ini, menjadi menarik untuk mengangkat kepermukaan apa-apa yang bersinggunan dengan “penodaan kebersihan” partai ini, PKS maksudnya.
    Bukan untuk mendiskreditkan partai lain, tetapi memang faktanya demikian. Gak akan seseru membahas PKS, untuk mengkritisi partai lainya dari sisi kepedulian dan komitmennya dalam menegakkan kata “anti korupsi”.
  2. Siapa sih kader-kader PKS? Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa mesin partai ini dihidupkan oleh orang-orang dari level berpendidikan. Menurut hemat saya, memang hanya partai inilah yang di”sesaki” oleh penghuni yang terdidik. Setidaknya level sarjana S1 mendominasi hampir seluruh kader yang tersebar di negeri ini.  Dan  boleh dikatakan PKS memiliki kader S2 dan S3 terbanyak dibandingkan partai lainnya di Indonesia.

    Relevansinya apa? Kader PKS adalah kader yang pandai, setidaknya dalam konteks beropini terhadap sebuah issue. Anda boleh tidak sependapat dengan saya dalam hal ini. Tapi coba silahkan iseng-iseng hitung jumlah internet user yang terdeteksi sebagai kader PKS (dalam membuat opini di sosmed) dan juga dari kader partai lain. Hasilnya akan jomplang, akan jauh lebih mudah mengenali mana kader PKS (setidaknya karena mereka tidak malu-malu mengklaim dirinya sebagai kader PKS).

    Selanjutnya faktor lain yang membuat banyak opini kader PKS di sosmed adalah, karena Mayoritas kader PKS melek teknologi, mereka akrab dengan dunia internet, dan hampir seluruhnya memiliki account di situs media sosial tertentu. Tentu saja setiap saat mereka dapat saja membuat artikel untuk mengekpresikan pemikirannya tentang PKS, atau sebaliknya untuk meng-counter setiap serangan yang mengarah kepada PKS.

    Akhirnya akan semakin maraklah “perang” opini antara pro PKS dan kontra PKS di sosmed, (khususnya di kompasiana)

  3. Kiprah Kader PKS di negeri ini. Hal ini menjadi perangsang tersendiri untuk menjadikan topik ini sebagai buah bibir di media masa, baik online atau offline. Kalau untuk saya pribadi, yang melekat di penglihatan saya adalah ketika ada bencana alam terjadi di negeri ini.
    Sampai ada opini, “Et dah…. PKS lagi-PKS lagi”. Dimanapun ada bencana alam terjadi PKS menjadi salah satu relawan yang hadir membantu korban ditengah-tengah bencana itu. Untuk topik ini silahkan googling sendiri untuk mendapatkan info lebih jauh.

    Itu mah cari muka doang……,” kata sebagian orang.

    Di balas lagi, “kalau kami cari muka, kami akan panggil wartawan untuk meliput kegiatan kami dan kami akan pilihpilih tempat yg strategis untuk dipublikasi, tetapi, itu semata-mata karena komitmen kami sebagai partai yang bermafaat…

    Entah intinya untuk apa, yang jelas topik ini seringkali mengemuka (ada PKS di setiap musibah), manakala ada bencana alam yang terjadi disekitar kita.

  4. PKS makin diinjak, makin mencuat. ini dia ada efek anomali di tubuh PKS. Seyogyanya dan sejalan dengan akal sehat, sebuah benda kalau secara terus menerus dirusak, akan hancur pada suatu titik tertentu.
    Saya ambil contoh misalnya pagar yang terbuat dari batu bata.  Kalau pagar itu anda gempur terus menerus dengan palu atau gada, maka akan terjadi gompalan dititik dimana palu atau gada itu berlabuh. dan kalau anda melakukannya terus menerus, maka suatu saat pagar itu tidak akan bersisa, robah atau hancur berkeping-keping.
    Nah kembali ke konteks PKS, partai itu sungguh aneh. Makin didiskreditkan, di”fitnah”, dipojokan, diserang dan sebagainya, ehhhhhhh……… bukannya mengalami kemunduran malah sebaliknya. Di sisi internal mereka makin solid, di luar malah berempati bahkan balik mendukung.
    Realita ini  menjadikan banyak orang menjadi “gatal” untuk beropini atau mengomentari PKS dari sisi ini. Dalam artian yang tidak negatif, ini menjadi seperti lingkaran setan, makin dicerca makin tumbuh PKS-nya, makin tumbuh PKS-nya makin menarik untuk di cerca, dan begitu seterusnya.
  5. Trend PKS yang kerap memenangi beberapa pertarungan pilkada di beberapa daerah. Hal yang paling fenomenal adalah saat PKS memenangi pilkada Jabar, mengalahkan PDIP dan juga sumatra utara, dan juga mengalahkan PDIP.
    Sungguh diluar bayangan kita semua, terlepas dari faktor incumbent atau bukan, bahwa PKS dapat memenangi pilkada di jabar dalam rentang tak lebih dari 2 minggu saat LHI ditangkap KPK. Tentu saja seluruh mata dinegeri ini sedang mengarah ke issue itu.  Dan “pantasnya” bahwa pada saat itu nama PKS sedang tercoreng.
    Tapi nampaknya, fakta berbicara lain. PKS berhasil keluar sebagai sang juara. Hal ini membuat beberapa kalangan geram.  Lalu mulailah membuat dalih, begini dan begitu, bahwa sesungguhnya PKS tidak sepantasnya menang.
  6. Banyak orang yang “tersakiti” oleh PKS. Entahlah, dari beberapa dialog bersama yang saya tangkap dari beberapa orang, banyak orang yang memiliki pendapat demikian: “Terserah,… yang penting jangan PKS.” Saya tidak akan memusingkan alasan apa yang membuat banyak orang berfikiran seperti itu.
    Tapi yang menarik buat saya adalah fakta bahwa mereka merungut-rungut melihat kenyataan, bahwa PKS menang lagi……, Kadernya makin solid…….., tetangganya akrab dengan PKS……, dsb. Dan mereka seperti orang yang tersakiti oleh kenyataan ini.

    Yang saya pernah temui, mulai dari pengajian di kampung, RW dan kompleks perumahan ada saja selipan untuk “berhati-hati” dengan yang namanya PKS. Tak kalah serunya di ranah maya. Coba lihat waktu 7 hari pertama saat penangkapan LHI, ratusan posting ditulis untuk mengukuhkan status penangkapan itu, dan selanjutanya ribuan komentar dilontarkan untuk menyemarakkan artikel-artikel itu.

    Namun belakangan, setelah fakta kemenangan PKS di beberapa tempat, maka issue LHI dengan kasus sapinya seolah-olah menjadi basi dan menguap dibawa angin. Sebagai gantinya, munculah tulisan-tulisan pro PKS yang sebelumnya tidak ada (entah karena merasa belum waktunya , atau masih takut-takut, belum PD dengan keadaan).

    Kembali lagi seperti lingkaran setan yang tidak berkesudahan, saling balaslah artikel-artikel antara pro dan kontra PKS.

Nah, konklusinya adalah, berbicara tentang PKS itu selalu menarik. Baik untuk mereka yang mencintainya atau pun yang tidak menyukainya.  Bicara PKS selalu seru, selalu asik. Membaca artikelnyapun selalu membuat  dag-dig-dug, dan kadang memancing emosi, terutama yang berseberangan dengan pola fikir pembacanya, baik yang pro ataupun yang kontra.
Seperti ice cream magnum, PKS begitu nikmat dengan segala rasa manisnya bagi para “pencintanya”. Namun sebaliknya, PKS juga begitu nikmat untuk di cerca dengan pedas, sebagaimana menikmati rujak pedas, bagi para “pembencinya”.

Sekian dulu, salam selalu bagi mereka yang berhati tulus, siapapun anda, yang berniat memperbaiki bumi yang Allah SWT titipkan kepada kita ini.
Sumber :
http://politik.kompasiana.com/2013/04/15/rasa-pks-manis-seperti-ice-cream-magnum-pedas-seperti-rujak-546466.html

About pkskabbogor

Check Also

Berkah Musyawarah, Salah Maupun Benar Hasilnya

  Musyawarah itu berkah, apapun keputusannya. Berkah saat benar atau pun salah hasil keputusannya. Allah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.