Saturday , December 14 2019
Home / Artikel / "Teladan di Medan Khilafah" | @AlBurhanCenter

"Teladan di Medan Khilafah" | @AlBurhanCenter


“Teladan di Medan Khilafah”



By: Nandang Burhanudin

***

Hampir 14 abad lamanya, umat Islam mulai dari Jazirah Arabia, Persia, Maroko, Turki, Balkan, Andalusia, Mesir, Syam, Asia Tengah secara bergantian menguasai dunia. Masa kejayaan terus berlanjut. Generasi dari ke generasi, meraih prestasi tersendiri.
Mereka gigih memperjuangkan ‘izzul Islam wal Muslimin. Tidak larut dalam penantian. Tidak pula sibuk meminta pertolongan, atau turunnya mukjizat dalam diam. Berkorban hingga tetes darah penghabisan, demi meraih satu keajaiban berganti keajaiban lainnya. Salah satu keajaiban itu bernama perang Malazghirat.
Catatan sejarah tak akan melupakan peran serta Alip Arselan, Kalj Arselan, Sultan Murad, Muhammad Al-Fatih, dan Yawuz Salim, dan pahlawan lainnya dalam peperangan tersebut.
Alip Arselan mengenakan jubah putih. Setelah memeriksa pasukan. Ia berdiri dan dengan berapi-api mengobarkan semangat tempur pasukan muslim. Dalam pidatonya ia berkata, “Ya Allah jadikan jubah putih yang hamba kenakan saat ini, sebagai kain kafan.”
Kata-kata yang menggelegar dan meluluhlantahkan rasa takut, ia iringi dengan menerobos pasukan musuh yang jumlahnya berlipat-lipat kali melebihi jumlah pasukan yang ia pimpin. Ia pun meraih kemenangan. Namun ia bersedih, karena Allah belum menakdirkan menjadikannya syahid di medan tempur.
Lain halnya dengan Sultan Murad I. Sebelum bertempur ia pun berdoa, “Ya Rabb. Menangkanlah kaum muslimin. Karuniakan syahid untukku.”
Allah mengabulkan doa sang mujahid. Pasukannya menang. Ia sendiri syahid, setelah sebuah pedang besar menusuk dadanya. Ia pun tersunggur. Ia mengucapkan syahadatain. Lantas berpesan kepada prajuritnya, “Janganlah kalian turun dari punggung kuda!”
***
Sahabat, di kala jihad terpinggirkan dari “kamus” perjuangan kita. Maka saat itu kita telah membiarkan musuh mengepung kita dari berbagai penjuru. Matinya semangat jihad, baik jihad bermakna kesungguhan menjalani kehidupan tanpa sibuk mencaci-maki keadaan, atau jihad bermakna qitaal (berperang di medan tempur), adalah penyebab utama dari keadaan berikut:
1. Melemahnya kualitas fisik
Fisik kaum muda muslim, sangat jauh dibandingkan dengan kekuatan fisik generasi muslim tempo dulu. Contoh para sahabat-tabi’in mungkin laksana dongeng bagi kita saat ini. Contoh zaman sekarang saja, kekuatan fisik generasi muda muslim di Indonesia -terutama- masih jauh dari harapan. Terbukti, fisik kita tidak kuat dibawa lari walau hanya 1 km.
2. Melemahnya fokus
Minimnya melatih fisik, melahirkan kelemahan kedua yaitu kelemahan fokus dalam berpikir dan bertindak. Hal ini nampak, saat kebanyakan generasi muda muslim di Indonesia, mudah terkecoh-terperosok rayuan atau terhipnotis paham-paham nyeleneh, baik ekstrim kiri maupun ekstrim kanan. Paham sentimentil yang cenderung megalomania, mengawang-awang, dan tidak menyentuk keadaan riil. Atau tertipu dengan keuntungan materi sesaat, yang malah dianggap ghanimah. Akhirnya, harapan-harapan besar semakin menjauh dari fokus gerak-derap-dan langkah hidup kita. Tragisnya kita menjadi orang-orang yang “super sibuk” melakukan kesia-siaan, baik di dunia nyata terlebih di dunia maya.
3. Melemahkan semangat
Semangat adalah modal utama semua pergerakan. Semangat menggembalakan domba-domba tersesat membuat misionaris di tanah air dan di dunia Arab, tak pernah mengenal kata lelah. Demikian juga dengan semangat Israel Raya, Zionis di pelbagai dunia tak kenal henti mendesain kondisi dunia agar tetap berpihak kepada mereka. Namun perhatikan semangat kita, kaum muda muslim. Karena spirit jihad sudah melemah, maka semangat yang tersisa hanya terbatas di tataran koar-koar belaka. Anehnya, beberapa kalangan sangat bangga dengan pekerjaan berkoar-koar.
4. Melemahkan asas menghormati pejuang
Ini yang paling parah. Dalam ketidakberdayaan melakukan apapun, kita masih sempat menganggap sepele, mencaci-maki, menebar fitnah, bahkan mengadu domba para pejuang yang mungkin berbeda pemahaman dan beda konsep dalam berjuang.
HAMAS misalnya. Andaikan tidak ada brigade-brigade tempur yang dikoordinaotri oleh Harakah Muqawamah Al-Islamiyah (HAMAS), maka sebenarnya tak ada satu jengkal pun tanah Palestina yang tersisa. Namun di belahan bumi lainnya, peran jihad HAMAS dikotori dengan fitnah-fitnah keji oleh kita yang tak memiliki kemahiran-keterampilan dan kemampuan minimal melawan Israel.
Moursi misalnya. Di saat Moursi berjibaku untuk menghadapkan tawajjuh Mesir kembali ke pangkuan Islam, Moursi dihadapkan pada celaan-fitnah-ancaman pembunuhan-makar-caci maki-bahkan pembusukan karakter. Jika itu dilakukan oleh kaum LIberal-Zionis-Sekuler, maka lumrah dan wajar. Namun muslim yang ambigu pun masih tetap setia menjadi peniup perpecahan di kalangan umat Islam sendiri.
Erdogan misalnya, ia dituduh sebagai biang munafik. Padahal 2 minggu lalu, 21 Maret, Erdogan telah mendeklarasikan keberpihakannya kepada Islam. Ia tak segan-segan lagi mengakui bahwa dirinya kaum Islamis. Tentu setelah ia bisa mengukur kadar kekuatan yang dimiliki umat Islam, berhadapan dengan militer-kaum sekuler-liberal, dan juga kondisi ekonomi Turki yang semakin hari makin maju, mengalahkan negara-negara Eropa lainnya.
Spiriti khilafah/ustaadziyatul ‘aalam/imamah kubro dimulai dari persiapan utuh. Sesuai firman Allah:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al-Anfal: 60)
Jadi jangan sampai kita sibuk mencari-cari dalil tentang suatu masalah yang nash-nya tidak spesifik mewajibkan, namun melupakan perintah nash yang sudah jelas mewajibkan: yaitu kesiapan-kesigapan menghadapi musuh.


Wallahu A’lam 


– follow ustadz Nandang di twitter @AlBurhanCenter –

Sumber :
http://www.pkspiyungan.org/2013/04/teladan-di-medan-khilafah.html

About pkskabbogor

Check Also

Berkah Musyawarah, Salah Maupun Benar Hasilnya

  Musyawarah itu berkah, apapun keputusannya. Berkah saat benar atau pun salah hasil keputusannya. Allah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.