Tuesday , December 10 2019
Home / Artikel / Demokrat Perlu Belajar Pada PKS

Demokrat Perlu Belajar Pada PKS


Oleh : Ali Irfan
PKS dan Demokrat sama-sama mendapat badai di tahun politik ini. Kedua partai ini diuji sejauh mana kesolidan, ketangguhan, sekaligus profesionalitasnya dalam menggerakkan mesin partai. Meski sama-sama mendapat ujian, dua partai ini ternyata punya cara berbeda meresponnya.
Anas dan LHI, pimpinan Demokrat dan PKS sama-sama ditetapkan sebagai tersangka, atas dugaan kasus berbeda yang muaranya pada korupsi. LHI dalam hitungan singkat langsung ditetapkan tersangka, dan langsung ditahan KPK. Belakangan KPK seperti kehilangan akal menangani perkara LHI. KPK bahkan seperti mengembangkan ke kasus lain.
Meski statusnya sama-sama sebagai tersangka, Anas Urbaningrum yang menyusul kemudian ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus berbeda, belum juga ditahan KPK. Andi Mallarangeng, kader Demokrat yang bernasib sama menjadi tersangka, sampai sekarang pun belum ada penahanan. Itulah perbedaan dari sudut pandang perbedaan sikap terhadap dua partai ini.
PKS mengedepankan cinta dan kesolidan dalam menghadapi masalah ini. Cara itulah yang membuat PKS berhasil mengolah masalah menjadi anugerah. Anis Matta dalam setiap orasinya selalu menyampaikan pesan cinta kepada seluruh kader-kadernya ternyata mampu memukau dan menarik perhatian publik terhadap PKS. Salam cinta itu datang dari Ustadz Hilmi Aminudin dan Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq yang menyampaikan kecintaan keduanya terhadap para kader PKS. Jabar dan Sumut adalah buah konsolidasi yang digencarkan Anis Matta. Jabar dan Sumut adalah keberkahan itu.
Cara pandang LHI dan Anas dalam masalah pun sangat jauh berbeda. Anas menganggap dirinya sebagai ‘bayi yang tak diharapkan’ dalam Demokrat. Anas mengatakan masih ada lembar lembar berikutnya yang akan dibuka olehnya terhadap partai Demokrat. Sementara sikap Luthfi Hasan Ishaaq dalam menangani masalah ini, dengan tenang mengatakan bahwa masalah dan ujian itu adalah cara Allah menaikkan derajat.
Kesamaan PKS dan Demokrat hanyalah pada sikap gentle pimpinan partai yang mengundurkan diri sebagai ketua atau presiden partai, dengan harapan fokus menjalani proses hukum. LHI begitu ditetapkan tersangka oleh KPK langsung mengundurkan diri sebagai presiden PKS sekaligus mundur juga sebagai anggota DPR RI. Ini diikuti juga oleh Anas Urbaningrum yang menyatakan mundur sebagai Ketua Demokrat setelah ditetapkan tersangka.
Anis Matta begitu terpilih sebagai Presiden PKS, langsung detik itu juga menyatakan mundur sebagai Anggota DPR RI, tapi sayangnya keputusan Anis Matta tidak diikuti SBY yang mundur sebagai Presiden begitu SBY terpilih menjadi Ketua Demokrat.
PKS mampu melanjutkan roda organisasinya dengan menunjuk Presiden baru, hanya dalam tiga hari dan pemilihan presiden baru itu sama sekali tidak menimbulkan polemik. Semua kader PKS taat terhadap hasil syuro yang menetapkan Anis Matta sebagai presiden baru. Sementara itu, jalan panjang nan berliku lebih ditempuh Demokrat dengan diselenggarakannya Kongres Luar Biasa.
Sampai pada akhirnya muncul hasil yang hampir tidak dapat dipercaya akal sehat. Dewan Pembina Demokrat terpilih sebagai Ketua Partai menggantikan posisi Anas. SBY dipilih lantaran sosoknya dianggap paling mampu menyelesaikan konflik kader partai yang berebut kursi ketua Demokrat, sekaligus mempertahankan tingkat elektabilitas. Satu pertanyaan muncul di benak kita, gagalkah mekanisme kaderisasi partai pemenang pemilu 2009 ini?
Manajemen Tisu
Masalah lain yang ada pada internal Demokrat adaIah mengenai politik kekerabatan. Tak bisa dipungkiri, hal itu masih menonjol di negeri ini. Di PDIP, Keluarga Megawati masih mendominasi. Putri Mahkota pun telah disiapkan. Partai Golkar dulu sangat dekat dengan lingkaran keluarga Cendana. Dan hal ini terjadi juga di Demokrat.
Pada KLB kemarin sejumlah nama yang muncul ke permukaan masih berada di pusaran kerabat SBY. Selain nama SBY, Ani Yudhoyono yang merupakan istri tercinta SBY, juga masuk bursa calon. Posisi sekjend diduduki Edhie Baskoro yang merupakan putra bungsu SBY. Pengamat politik Egie Sudjana sampai memberikan saran, jika demikian halnya Demokrat kenapa tidak berganti nama saja menjadi PKS (Partai Keluarga SBY)
Gambaran realitas di atas, kaderisasi masih menjadi persoalan internal dan perlu mendapat perhatian lebih bagi Demokrat. Mengklaim diri memiliki kader banyak, tapi kesulitan mencari ketua partai.
Padahal, kaderisasi itu melahirkan kader-kader baru yang terbina, menciptakan kader-kader muda, yang memang disiapkan untuk menjadi pemimpin. Kaderisasi itu level pergerakannya naik, dari bawah ke atas, bukannya dari atas ke bawah.
Turun jabatannya SBY dari Pembina Demokrat menjadi Ketua Partai merupakan salah satu indikasi gagalnya kaderisasi Partai Demokrat. Kaderisasi itu sudah seharusnya belajar pada tisu. Ibarat kita menarik tisu dari wadah, maka tisu yang baru akan muncul kembali sebagai penggantinya.
Ketika pimpinan partai lengser, maka akan muncul ketua-ketua baru yang akan menggantikannya. Tisu yang lama tidak mungkin dimasukkan lagi dalam wadah tisu, karena masih banyak tisu-tisu baru yang siap dipakai. 
Dari sisi kaderisasi, tak ada salahnya jika Demokrat dan juga partai-partai lain belajar pada PKS yang sudah sangat rapi menerapkan manajemen tisu dalam menjalankan roda partai.
Sumber :

About pkskabbogor

Check Also

Berkah Musyawarah, Salah Maupun Benar Hasilnya

  Musyawarah itu berkah, apapun keputusannya. Berkah saat benar atau pun salah hasil keputusannya. Allah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.