Tuesday , December 10 2019
Home / Berita / Cegah Importir Nakal, Izin Impor Satu Atap | Mentan Suswono

Cegah Importir Nakal, Izin Impor Satu Atap | Mentan Suswono

Menteri Pertanian, Suswono (kanan) melakukan sidak kontainer yang berisikan produk hortikultura impor di Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Tanjung Perak, Surabaya, Senin (1/4).

Perizinan satu atap ini tak lagi menggunakan kuota, tapi skema biaya masuk 

SURABAYA- Melonjaknya harga bahan pangan yang tak terkendali belakangan ini mendorong kementerian terkait memotong rantai birokrasi terkait proses perizinan impor hortikultura. Yakni dengan menyederhanakan dokumen importasi bagi importir yang telah mendapat status importir terdaftar (IT) dari Kementerian Perdagangan. Kebijakan satu atap ini diharapkan mampu mencegah importir nakal.

Menteri Pertanian Suswono menjelaskan nantinya setiap importir yang akan mengimpor 20 jenis komoditas hortikultura cukup mengantongi satu surat keputusan dari instansi yang ditunjuk. Sehingga satu komoditas hortikultura wajib mendapat satu surat keputusan yang dikeluarkan lintas instansi seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian. “Jadi praktis. Saya harap setelah proses satu atap ini berjalan, mulai bisa diterapkan,” ujarnya, saat meninjau area penumpukan peti kemas di Surabaya, Senin (1/4). 

Menteri yang pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi terkait dengan impor daging sapi ini menegaskan dirinya akan mengakomodasi langkah-langkah untuk penyederhanaan dokumen importasi produk hortikultura.  Ia memastikan lembaga satu atap berisi lintas instansi seperti Badan Pengawasan Obat dan Makanan, Kemendag, Kementan, Bea Cukai, dan Karantina. 

Data dari Balai Besar Karantina Surabaya menunjukkan ada pemasukan bawang putih lewat Tanjung Perak sebanyak 332 kontainer dari 11 importir. Dari jumlah itu, 267 kontainer telah keluar dari Terminal Petikemas Surabaya atau setara 7.586 ton bawang putih. Jumlah kuota importir bawang lewat Tanjung Perak sebesar 15. 124 ton, sehingga kuota tersisa lewat Pelabuhan Tanjung Perak sebesar 7.538 ton. 

Terkait proses perizinan satu atap, Suswono mendorong  Kementerian Perdagangan segera melakukan revisi atas Permendag No 60 Tahun 2012. Implementasi perizinan satu atap ini tidak lagi menggunakan kuota, tapi skema biaya masuk pada produk hortikultura impor. 

Menurut Suswono, kebijakan ini juga mengantisipasi semester II 2013, di mana ada 170 importir yang mengajukan izin impor. Namun, ia yakin kebijakan satu atap akan efektif mencegah importir nakal. “Prinsipnya melindungi petani, konsumen dan mempercepat pelayanan,” kata Suswono. 

RI-AS Berunding
Di sisi lain, Kemendag sudah berunding dengan Amerika Serikat soal aturan impor hortikultura di Jakarta pada 21 Februari lalu. Namun, pertemuan tersebut belum menemukan titik terang. Kedua pihak sepakat melanjutkan perundingan minggu ketiga dan keempat bulan April ini.  

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, telah duduk bersama dengan Menteri Pertanian Suswono untuk mempersiapkan jawaban Indonesia kepada Menteri Perdagangan AS dan WTO. “Kita lagi siapkan dan saya sudah duduk bersama Mentan. Insya Allah kita bisa jawab seluruh pertanyaan dari kawan-kawan di WTO dan Amerika. Selama itu, kita konsisten dengan semangat kita,” ujar Gita di Istana Negara, Senin (1/4).

Menurut Gita, Indonesia akan membahas pembatasan impor hortikultura itu dengan Menteri Perdagangan AS pada 20 April mendatang di sela-sela pertemuan kerjasama ekonomi se-Asia Pasifik (APEC) yang diselenggarakan pada 6-21 April 2013 di Surabaya. Gita berharap pemerintah negara Abang Sam tersebut bisa menerima penjelasan dan alasan Indonesia.

Masalah ini bermula ketika pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 60 Tahun 2012 tentang Rekomendasi Impor Hortikultura dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 60 Tahun 2012, tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura. Dua beleid tersebut berlaku mulai Januari hingga Juni 2013. Ada 13 komoditas holtikultura yang dibatasi importasinya hanya melalui pelabuhan tertentu, meliputi kentang, kubis, wortel, cabe, nanas, melon, pisang, mangga, pepaya, durian, krisan, anggrek, dan heliconia.

Salah satu argumen utama yang disiapkan Kemendag dalam forum lanjutan adalah pemerintah akan membawa bukti bahwa kebijakan membatasi pelabuhan impor hortikultura tidak hanya ditujukan bagi produk Amerika, tapi juga kepada negara-negara lain.

Jika WTO memutuskan Amerika menang, konsekuensinya pemerintah Indonesia harus mencabut kebijakan pengetatan impor hortikultura. Ada kemungkinan Indonesia bakal dikenakan denda. Sebaliknya jika AS kalah, maka kebijakan ini harus diterima pelaku usaha di negara Paman Sam itu.

Sumber :
http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d4c25ddfb2ce621593edbbd4a9779c9b&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c

About pkskabbogor

Check Also

KH. Agus Salim Resmi Dilantik Sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor

Ketua DPD PKS Kabupaten Bogor resmi dilantik sebagai wakil ketua DPRD Kabupaten Bogor periode 2019-2024. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.