Friday , December 13 2019
Home / Artikel / Ada Apa dengan KPK | @ian_sendja

Ada Apa dengan KPK | @ian_sendja


Ada apa dengan KPK
@ian_sendja
Menarik membaca berita-berita tentang KPK akhir-akhir ini. Banyak berita hangat yang sekarang banyak diperbincangkan. Ops…tunggu dulu. Saya fikir tidak banyak kok yang memperbincangkan. Yang memperbincangkan hanyalah pengamat dan kaum intelektual saja. Masyarakat umum hanya menjadi penonton drama KPK. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di tubuh KPK. Emang ada apa?
Ehm…menarik dari mulai bocornya sprindik AU. Hal ini menggambarkan bahwa ada ketidak harmonisan antara pimpinan KPK. Kesimpulan ini kita tarik setelah mengetahui hasil dari pemeriksaan komite etik. Dalam beberapa kesempatan kita juga melihat “saling bantah” antara Abraham Samad dan Johan Budi. Pak Bram bilang begini, Pak Jo bilang begitu. Gak linear deh. Padahal Pak Jo itu jubir yang seharusnya menjadi perpanjangan lidah dari pimpinan KPK. Lantas kenapa seolah punya opini sendiri jika bicara di depan publik?
Ketidak sehatan di tubuh KPK ini sebenarnya sudah terlihat pasca penahanan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq. Dituduh suap kuota impor daging sapi yang sampai saat ini belum bisa dibuktikan. Padahal kita tahu pak Jo sudah beberkan ke publik ada bukti kuat percakapan antara LHI dan mentan. Sementara di lain waktu pak Bram bilang tidak punya bukti percakapan. Tak berhenti sampai disitu KPK langsung menggiring opini dengan menjatuhkan pasal TPPU pada LHI yang sampai saat ini belum juga bisa dibuktikan kebenarannya. 
Ada apa sebenarnya? Apakah KPK hari ini ingin mempertahankan citra sebagai lembaga super power yang bisa mentersangkakan siapapun, menterdakwakan siapapun bahkan mendudukkan siapapun di kursi pesakitan untuk diadili? Masalah benar atau salah urusan belakang.
Melihat kondisi ini pantas para pengamat mengatakan kalau para pimpinan KPK sudah punya juragan masing-masing, sandra menyandra kasus hingga pada kerja titipan yang harus dilakukan oleh KPK. Kalau boleh kita bertanya dimana hari ini Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, dan Edi Baskoro Yudhoyono (Ibas)? Untuk nama terakhir mengapa KPK belum juga memanggil beliau padahal sudah berapa kali disebutkan oleh Yulianis.
Ada apa dengan KPK? Sehingga ketika ada yang mengkritik lantas langsung dikatakan pro koruptor. Bicara masalah sprindik dikatakan upaya pelemahan KPK. Kalau seperti ini keadilan di negara tercinta ini sudah tergadaikan. Bahkan kedepan saya memprediksikan KPK akan dijadikan sebagai alat kekuasaan untuk menyerang lawan politik. Untuk itu upaya pembersihan KPK harus lebih dulu dilakukan sebelum pembersihan para koruptor. 
KPK juga tidak bisa lantas merasa jumawa dengan kekuasaan tanpa batas mereka. Manusia tetap manusia yang pasti akan punya kesalahan. Ketidak harmonisan di tubuh KPK harusnya menjadi satu jalan bagi komite etik untuk meninjaunya. Ini juga berhubungan dengan kode etik kan? 
Oknum-oknum di KPK yang pernah terlibat masalah baik kecil maupun besar, berat atau ringan sebaiknya segera diganti. KPK butuh kepercayaan dari publik bukan hanya untuk saat ini. Tapi untuk beberapa tahun kedepan hingga tidak ada lagi koruptor di negeri ini
*Saftian Cahyadi Hsb
Sumber :

About pkskabbogor

Check Also

Berkah Musyawarah, Salah Maupun Benar Hasilnya

  Musyawarah itu berkah, apapun keputusannya. Berkah saat benar atau pun salah hasil keputusannya. Allah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.