Sunday , December 8 2019
Home / Artikel / Kemudian Air Mata Itu Menggenang di Pelupuk Mata

Kemudian Air Mata Itu Menggenang di Pelupuk Mata

Oleh : Anto Saja
Awal cerita saat terbuka kasus pak LHI, saya hanyalah pengikut berita, memperhatikan, mengamati tapi juga tidak terlalu menggebu untuk menyatakan beliau itu tidak bersalah, “ini pasti konspirasi” seperti yang sering menjadi kata-kata pembelaan dan cacian terhadap pak LHI. Dalam kacamata saya, setiap orang pasti memiliki ada kecenderungan terhadap harta, tahta, dan wanita, sehingga pasti adakalanya seorang pasti juga tergelincir, walaupun saya juga punya kacamata lain untuk saya pakai, yaitu juga tetap menaruh kredo “berprasangka baik”. 
Akhirnya ketika diminta atau ditanya oleh beberapa teman terkait pandangan saya pada kasus ini, saya hanya menyampaikan “kita ikuti saja proses hukum yang berjalan”. Mungkin saya lebih tepat memposisikan diri sekubu dengan pak Tjipta Lesmana,yang memandang kasus ini sebagai kasus ‘aneh’ saja. Meskipun akhirnya banyak klarifikasi oleh KPK yang sudah disampaikan terkait ke’anehan’ tersebut.

Seiring berjalannya waktu, ada banyak cerita yang mengiri kasus ini, tanggapan2 pendukung, tanggapan menghujat, semua tersaji di depan mata saya saat mengikuti kasus ini, hingga akhirnya sore ini, saat membaca http://www.pkspiyungan.org/2013/03/inilah-nasehat-ustadz-luthfi-hasan.html saya merasakan ada yang berbeda di hati saya. Ada keinginan kuat untuk menyampaikan sesuatu yang mengganjal dalam hati. keikhlasan beliau, ketenangan beliau, dan kekuatan beliau untuk selalu berdakwah dalam berbagai kondisi, menstimulasi bulir-bulir air mata yang kemudian mengembang dipelupuk mata. 

Dan saya kemudian berniat untuk ikut ambil bagian dalam mendoakan beliau agar smg dimudahkan dalam urusan beliau.
Catatan: 
ada yang menarik dari foto2 belai saat beliau hebdak di tahan, meskipun terlihat aura kesedihan beliau, beliau tetap menghaturkan senyum sapa bagi orang-orang disekitarnya, inilah ‘mimik wajah orang menjadi tersangka’ itu, mimik yang menunjukkan keikhlasan dan optimisme bahwa “saya tidak melakukan, mengapa saya harus malu’, bahkan saya tafsirkan sebagai mimik wajah yang menantang (saya tidak bersalah, mengapa saya harus takut?’

Sumber :
http://polhukam.kompasiana.com/politik/2013/03/21/2/543993/kemudian-air-mata-itu-menggenang-di-pelupuk-mata.html

About pkskabbogor

Check Also

Berkah Musyawarah, Salah Maupun Benar Hasilnya

  Musyawarah itu berkah, apapun keputusannya. Berkah saat benar atau pun salah hasil keputusannya. Allah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.